Pembukuan merupakan fondasi penting dalam menjalankan sebuah usaha. Sayangnya, masih banyak pelaku UMKM yang menganggap pembukuan sebagai hal sepele. Akibatnya, usaha terlihat berjalan normal dan penjualan tetap ada, tetapi kondisi keuangan tidak pernah benar-benar terasa aman. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat usaha sulit berkembang dan rawan mengalami masalah keuangan.
Padahal, kesalahan kecil dalam pembukuan dapat berdampak besar pada keberlangsungan bisnis. Kesalahan yang terus dibiarkan akan membuat pemilik usaha kesulitan mengontrol arus kas, menentukan harga jual, hingga mengambil keputusan penting. Berikut beberapa kesalahan pembukuan yang sering dilakukan UMKM dan sebaiknya dihindari agar usaha dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Kesalahan paling umum yang sering terjadi adalah mencampur uang pribadi dengan uang usaha. Banyak pelaku UMKM mengambil uang dari kas usaha untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan yang jelas. Kebiasaan ini sering dianggap wajar, padahal dapat merusak struktur keuangan usaha.
Dampak yang sering muncul antara lain:
Usaha yang sehat harus memiliki pemisahan yang jelas antara keuangan pribadi dan keuangan bisnis. Dengan pemisahan ini, pemilik usaha dapat menilai performa usaha secara objektif dan lebih mudah merencanakan pengembangan bisnis.
Sebagian UMKM hanya mencatat transaksi besar dan mengabaikan transaksi kecil karena dianggap tidak signifikan. Padahal, transaksi kecil yang tidak tercatat jika dikumpulkan dapat menjadi jumlah besar dan berdampak langsung pada arus kas usaha.
Akibat dari kebiasaan ini antara lain:
Pencatatan transaksi sebaiknya dilakukan secara rutin, baik harian maupun mingguan. Konsistensi dalam mencatat transaksi akan membantu pemilik usaha memahami kondisi bisnis secara menyeluruh.
Masih banyak pelaku UMKM yang mengandalkan ingatan untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran usaha. Cara ini sangat berisiko, terutama ketika jumlah transaksi semakin banyak dan usaha mulai berkembang.
Kesalahan ini dapat menyebabkan:
Tanpa pencatatan tertulis, usaha akan sulit dikontrol dan berisiko mengalami kebocoran keuangan tanpa disadari oleh pemiliknya.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah hanya menghitung modal pembelian barang, tetapi mengabaikan biaya operasional lain seperti listrik, sewa tempat, transportasi, hingga biaya tenaga kerja.
Dampak dari kesalahan ini antara lain:
Semua biaya operasional harus dicatat secara lengkap agar perhitungan usaha lebih realistis dan keuntungan yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi usaha.
Banyak UMKM hanya mencatat transaksi tanpa menyusunnya menjadi laporan keuangan. Padahal, laporan keuangan sangat penting untuk mengetahui arah dan kesehatan usaha.
Tanpa laporan keuangan:
Laporan sederhana seperti laporan laba rugi dan arus kas sudah sangat membantu UMKM dalam mengelola usaha secara lebih profesional.
Pembukuan sering kali hanya dilakukan saat usaha sedang ramai. Ketika penjualan menurun, pencatatan pun ikut terhenti.
Pembukuan harus dilakukan secara konsisten agar hasilnya dapat dijadikan dasar evaluasi dan pengambilan keputusan jangka panjang.
Di era digital, masih banyak UMKM yang enggan menggunakan aplikasi pembukuan atau sistem kasir. Padahal, teknologi justru mempermudah pencatatan dan meminimalkan kesalahan manusia.
Pemanfaatan teknologi membantu pembukuan menjadi lebih rapi, aman, dan efisien, sehingga pemilik usaha dapat lebih fokus mengembangkan bisnis.
Kesalahan pembukuan yang sering dilakukan UMKM dapat berdampak besar pada kelangsungan usaha. Mulai dari mencampur uang pribadi, tidak mencatat transaksi secara rutin, hingga tidak membuat laporan keuangan, semuanya dapat menghambat pertumbuhan bisnis.
UMKM yang ingin bertahan dan berkembang harus mulai membangun sistem pembukuan yang rapi sejak dini. Pembukuan yang baik membantu usaha lebih terkontrol, lebih menguntungkan, dan siap naik kelas di tengah persaingan yang semakin ketat.